Aster in Your Heart (8)

09.00

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

****

Cerita sebelumnya: Aster in Your Heart (7)


***

Tubuhku terasa hangat dan aku menikmatinya. Aldo pasti tak tega melihatku kedinginan, lalu dia memelukku. Ah akhirnya, aku bisa menaklukkannya. Perlahan aku mulai membuka mataku. Apa ini? Hanya sebuah selimut? Tidak ada pelukan dari Aldo?!

"Ada apa denganmu?" tanya Aldo saat melihat raut cemberut di wajahku.

"Kenapa tidak membiarkanku kedinginan? Kenapa kamu malah memberikan selimut ini?" 

Aldo hanya tersenyum melihat kejengkelanku. Dia masih duduk di samping ranjang.

"Apanya yang lucu?" tanyaku kemudian.

"Dasar gadis bodoh! Semalam kau menikmatinya. Bukankah itu terasa hangat?"

"Menikmati? Apa yang telah terjadi? Apa kita...,"

Aku memeriksa pakaianku dan meraba-raba tubuhku. Apa mungkin semalam semuanya telah terjadi? Kenapa otakku blank? Aku tak mengingat apa-apa. Perlahan Aldo mulai mendekatiku. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Aku menarik selimut yang menutupi tubuhku. Aldo benar-benar menakutiku.

"Kau lupa semuanya?" tanya Aldo. Tatapan matanya begitu tajam, seperti pemburu yang mengincar mangsanya.

"Al, kau menakutiku. Apakah semalam telah terjadi sesuatu?"

"Tentu saja," jawab Aldo santai.

Aldo mulai memasang wajah meledek dan aku semakin terlihat bodoh karena tak tahu apa yang telah terjadi tadi malam.

"Sudah lupakan saja, aku mau mandi."

Aldo meninggalkanku. Ah! Apa aku benar-benar bodoh? Kenapa aku sama sekali tidak mengingat kejadian semalam? Apa benar telah terjadi sesuatu?

***

"Tunggu sebentar Al...," ucapku terengah-engah saat mengejar Aldo yang berlari meninggalkanku.

"Fara, kau ini benar-benar menyusahkan. Aku tadi sudah bilang, tidak usah ikut lari pagi. Kenapa malah memaksa ikut?"

"Itu karena, masih ada yang mengganjal di hatiku."

"Apa lagi? Kau sendiri saja lupa apa yang telah terjadi."

"Ayolah Al, katakan apa yang terjadi semalam?" 

Aku merengek, menarik-narik tangan dan bajunya seperti seorang anak yang minta es krim kepada ayahnya.  Mungkin Aldo sedikit malu dengan kelakuanku. Dia mencoba melepaskan tanganku yang dengan erat menarik bajunya.

"Fara, lepaskan.... Ini tidak lucu!"

"Aku tahu, ini memang tidak lucu. Makanya, kamu cerita tentang semalam, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Iya, lepaskan dulu!"

Aku mulai melepaskan tanganku. Aku pun memasang wajah siap untuk mendengar cerita Aldo.

"Kamu itu benar-benar gadis aneh. Semalam itu, kamu...,"

"Kamu, kenapa?"

"Jangan memotong ucapanku!"

"Iya-iya,"

"Kamu itu menarik selimut itu sendiri. Membiarkan semuanya melilit di tubuhmu. Kamu tahu apa yang terjadi? Semalaman aku kedinginan karena tidak berselimut. Aku kan sudah bilang, jangan pakai pakaian seperti tadi malam. Pakaian itu belum selesai dijahit!"

"Tapi Al, lingerie itu membuatku terlihat seksi." ucapku membela diri.

"Seksi? Dari segi mana keseksian itu terlihat? Jangan bertindak bodoh lagi."

Lagi. Skak mat! Aku tak bisa mengkoneksikan otakku. Pipiku terasa memerah setelah mendengar semua penjelasan Aldo. Apa benar itu yang terjadi semalam? Aldo telah berlari jauh meninggalkanku. Aku hanya berjalan perlahan, memasang otak mengingat semua perkataan Aldo.

Menengok sekitar, sepertinya aku berjalan terlalu jauh. Aldo, kemana dia? Aku ini di mana? Ya Tuhan, sepertinya aku tersesat. Tidak ada seorang pun di jalan ini. Aku harus bagaimana?

You Might Also Like

3 komentar

  1. wah wah, aku jd penasaran, xixixi :D

    BalasHapus
  2. ih si Aldo galak amat ._.
    kasian fara kan.

    BalasHapus
  3. Aku jadi berprasangka yang aneh2 hihihi. Salam kenal. aku follow, folbek ya :)

    BalasHapus

Call me Pu |@perempuanunik | unikperempuan@gmail.com

IBX58B3FC10AF930