Apa Aku Bisa Jadi Ibu yang Baik?

09.00

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

***

Pantaskah aku disebut Ibu? Aku melihatnya tak berdaya dan aku tak bisa apa-apa!

Sejak kecil aku tak terbiasa dekat dengan orang lain. Sampai saat ini, bahkan dengan anak-anak yang katanya polos, selalu jujur. Anak-anak yang bahagia, mengatakan apa yang mereka mau dengan mudahnya.

Kata orang, naluri keibuanmu akan muncul saat kau menjadi Ibu. Kau akan mudah mengenali anakmu. Kau juga akan lebih tanggap saat sesuatu terjadi padanya. Tapi ini sepertinya tak terjadi padaku. Aku mondar-mandir tak tahu harus apa.

Hujan di luar sana masih begitu deras. Aku tak bisa pergi ke apotek untuk membeli obat atau membawanya ke dokter. Aku tak tahu obat apa yang cocok atau dokter anak mana yang bisa mengobatinya. Aku tak tahu....

Kuambil smartphone. Ragu, akhirnya kuketik nama Alex di kontak untuk memanggilnya. Tersambung....

"Apa kau tidur?"

"Ya. Nara, kau oke?" ucap suara di seberang sana.

"Aku oke. Tapi Bian...,"

"Ada apa dengan dia?"

"Dia deman, suhu tubuhnya 39 derajat. Aku tak tahu harus bagaimana, Lex! Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Aku enggak bisa kehilangan dia lagi. Aku harus apa?" kataku terisak.

"Hei, tenanglah! Aku akan segera ke sana, oke?! Tenangkan dirimu. Jangan panik!"

"Ya,"

Dan telepon pun terputus. Jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Apa yang akan Alex lakukan? Apa dia akan membawa dokter? Atau obat penurun panas?

Setengah jam telah berlalu. Alex belum juga terlihat. Bian masih menggumam dalam tidurnya. Kuelus kepalanya yang hangat. Ada apa denganmu, Nak?

Suara mobil terdengar di luar sana. Bergegas kubuka pintu.

"Alex...,"

Ternyata bukan.

"Boleh aku masuk?"

Aku menatap mereka, bagaimana mungkin.... Meski tenang, aku tahu ada kehawatiran di sana. "Ya masuklah!"

Dan mereka pun masuk, Maura dan Dean datang ke rumah setelah pertengkaran itu. Suasana sungguh canggung sampai Dean mengeluarkan suara,

"Tadi Alex menelponku. Jadi kami ke sini sementara dia beli obat penurun panas."

"Aku bisa ketemu Bian?!" tanya Maura.

"Dia di kamar, di sana."

Kami berjalan ke kamar tidur tempat Bian berbaring.

"Hei, Boy! Mama di sini!" sapa Maura dengan mencium kening Bian.

Seketika Bian membuka mata lalu memeluk Maura dengan erat.

Sumber
"Kamu oke?!"

Bian menatap Maura dan menggeleng lalu memeluknya lagi. Aku lihat mata itu, mata Bian yang berbinar-binar saat melihat Maura.

"Nara, boleh minta tolong?"

"Tentu saja,"

"Kau bisa peluk Bian kan? Dia suka dipeluk saat demam begini. Apa dia tadi rewel?"

"Tidak. Dia hanya menggumam..., namamu. Ah, kau mau ke apa? Biar aku yang menyediakan. Kau saja yang menemani."

"Kau yakin?"

"Sudahlah. Apa yang bisa kubantu?"

"Tolong ambilkan air hangat dan handuk dan apa kau punya teh herbal?"

"Kebetulan aku belum belanja," aku menunduk. Apa-apaan aku ini? Bagaimana bisa teh herbal saja tidak punya?

"Hei, tak apa. Ada es krim?"

"Eskrim? Ada. Tapi buat apa?" tanyaku bigung. Kenapa anak panas malah diminumi es?

"Kita tidak boleh membiarkan Bian dehidrasi. Es krim cukup bantu biar dia tidak kekurangan cairan."

"Oh begitu rupanya. Ah akan segera kuambilkan."

"Di mana baju Bian?"

"Di alamari kecil itu,"

Kuambil panci dan memanaskan air. Tak lupa kubawa handuk kecil. Setelah air cukup hangat, kutaruh baskom. Kubawa semua termasuk es krim yang dibelikan Alex kemarin.

"Ini air dan eskrimnya."

"Terima kasih Nara. Ayo Boy, Mama buka bajumu dulu ya."

Dan Maura dengan telaten membasuh badan Bian dengan air hangat. Setelah semua cukup, Maura memakaikan baju lalu memberinya es krim dan disambut dengar ceringan lebar Bian. Dean juga berdiri didekat Maura. Dia diam tapi matanya terus mengawasi keduanya.

"Apa aku terlambat? Susah banget nyari apotek yang buka jam segini!"

"Tapi kamu dapat Tempra Syrup kan?" tanya Maura.

"Oh tentu. Ini dia!"


Alex mengeluarkan botol syrup paracetamol dan langsung diterima Maura yang kemudian membuka tutup dan menuangkan dalam gelas takar. Maura memberikannya langsung pada Bian.

"Kamu enggak mengocoknya dulu? Apa aman di lambung padahal Bian belum makan?"

"Tempra syrup mengandung paracetamol yang bekerja sebagai antipiretika, meredakan demam, rasa sakit dan nyeri ringan, sakit kepala dan sakit gigi. Tempra syrup tidak perlu dikocok, larut 100%. Dan yang pasti tak ada masalah buat lambung selama dosisnya tepat."

"Berapa dosisnya?" tanyaku penasaran.

"Karena usia Bian 5 tahun, dosisnya 7,5 ml. Itu anjuran dokternya. Bila perlu perdosis tiap empat jam. Tapi jangan lebih dari 5 kali sehari. Kamu bisa menyimpan syrup ini di suhu kamar kurang lebih 25-30° C dan jangan kena matahari ya."

"Oke. Apa Bian sering demam?"

"Tidak juga. Dia anak yang kuat, seperti kamu Nara. Demam itu gejala, pertanda anak sedang melawan penyakit. Ini juga jadi bukti bahwa sistem kekebalan tubuhnya bekerja dengan baik. Kamu enggak perlu hawatir. Demam bisa terjadi karena kelelahan atau efek imunisasi atau,"

"Atau karena dia terlalu rindu sama kamu, Mamanya," potongku sebelum Maura menyelesaikan perkataannya.

Maura terdiam, suasana jadi hening. Kami berempat memerhatikan Bian yang kini tertidur dengan memeluk lengan Maura. Alex dan Dean memutuskan keluar kamar.

"Bian hanya belum terbiasa, Nara. Kamu Ibu kandungnya dan dia pasti akan dekat juga dengamu juga."

"Apa aku bisa jadi Ibu yang baik? Aku saja tak tahu harus berbuat apa saat Bian demam. Untungnya Alex menghubungimu. Apa semua sudah terlambat, Maura?!"

"Tidak, jangan bilang begitu," Maura menggenggam erat tanganku.

"Sampai saat ini aku juga masih belajar menjadi Ibu. Dia butuh waktu untuk dekat denganmu. Tolong bersabarlah!" lanjutnya.

"Terima kasih. Terima kasih karena sudah merawat dia selama ini. Maafkan sikapku Maura!"

"Hei, aku yang minta maaf karena sudah marah padamu. Juga terima kasih karena membiarkanku merawat dia. Kau tahu, dulu dia begitu kecil. Aku sempat takut saat pertama kali menggendongnya."

Kuhapus air mata yang tiba-tiba menetes. Kupeluk Maura erat dan rasanya begitu lega. Bian bisa tumbuh dengan baik karena Maura dan Dean. Aku tak akan tahu bagaimana jadinya jika dia tumbuh bersamaku yang bahkan tak tahu apa-apa tentang membesarkan anak.

"Bisa kau ceritakan bagaimana dia saat bayi?" tanyaku.

"Tentu saja!" sambutnya dengan gembira.

Dan cerita pun dimulai. Ya mungkin aku belum bisa jadi Ibu yang baik. Tapi aku akan mencoba mengesampingkan egoku dan memberikan hal yang terbaik untuk Bian. Walaupun itu artinya aku harus merelakan Bian bersama Maura, Ibu angkatnya.

****

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra

You Might Also Like

2 komentar

  1. Pasti bisa jd ibu yg baik mba krn seorang ibu memiliki insting yg kuat klo menyangkut anaknya

    BalasHapus
  2. mba ini fiksi?bisaan ih semoga kita semua bisa jadi ibu yang baik dan dirindukan anak :)

    BalasHapus

Call me Pu |@perempuanunik | unikperempuan@gmail.com

IBX58B3FC10AF930