Peri Bumi

09.00

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Cahaya menyilaukan ketika Amer membuka mata. Matahari dari timur mulai nampak dengan cahaya jingga. Amer mencoba duduk. Badannya terasa remuk. Ia ingat betul badai angin yang mengacaukan kapalnya. Ia bersyukur karena terdampar di sebuah pulau. Tapi ini di mana?

Tertatih Amer mencoba berdiri dan berjalan. Pulau ini begitu indah dengan nyiur melambai. Air lautnya pun terlihat biru. Jauh mata memandang, Amer juga melihat batu-batuan yang tampak gagah.

Sejenak dia mengingat Emaknya nan jauh di sana. Dulu Amer dan Emak tinggal di hutan berteman kegelapan. Emak selalu bermimpi pergi ke pulau seberang. Barangkali hidupnya bisa lebih baik, begitu katanya. Satu pesan Emak yang digaungkan sejak kecil dan tak pernah Amer lupa, “Saat kau sampai pada sebuah tempat baru, carilah Peri Bumi. Hiduplah bersamanya dan kau akan mendapat kemudahan dengannya.”

“Aku harus menemukan Peri Bumi!” putus Amer.


Bergegaslah ia melangkahkan mengikuti ke mana arah kaki membawanya.

Peluh mengalir, sementara kakinya mulai lelah. Amer memutuskan untuk duduk di bawah pohon randu. Di mana Peri Bumi? Kenapa Amer hanya bertemu orang yang sama seperti dirinya? Apakah Peri Bumi tinggal di sebuah tempat suci lalu setiap purnama orang-orang akan memberi sesaji untuknya agar mengabulkan setiap permintaan mereka?

Jika memang benar, apa yang harus Amer berikan pada Peri Bumi agar hidupnya bahagia? Dia hanya pendatang, kapal dan barang berharga bawaannya hilang diterjang ombak.

“Hai Nak? Kau siapa?”

Amer mengangkat kepala yang sedari tadi menunduk. Dia melihat wanita cantik berwajah lembut, seperti Emaknya.

“Amer, aku Amer!”

“Kau dari mana?”

“Entah, jauh di sana,”

Wanita itu tersenyum, terlalu sering bertemu dengan pemuda seperti Amer.

“Apa kau Peri Bumi?” tembak Amer ketika terpukau dengan senyum wanita paruh baya itu.

“Ya, kau bisa menyebutku seperti itu,”

Amer takjub seketika dan bertanya dengan antusias, “Di mana sayapmu?!”

Wanita itu mengernyit, “Sayap?”


“Ya, sayap. Seorang Peri harusnya bersayap!”

“Tapi aku tak bersayap, Nak!”

“Tapi kenapa? Bukankah kau Peri Bumi?”

Wanita itu bingung harus menjawab apa. Ditatapnya Amer yang tertunduk lesu karena tak menemukan apa yang dicarinya.

“Nak, apa yang sebenarnya kau cari?”

“Peri Bumi yang memberikan kebahagiaan hidup.”

“Walaupun aku tak bersayap, aku bisa memberimu kebahagiaan.”

“Benarkah?!”

“Tentu. Pulang lah bersamaku, jadi lah anakku, hidup bersamaku!”

“Aku tak bisa menolakkan?”

Wanita itu menggangguk. Lalu keduanya mulai berjalan dengan semangat mengembang.

“Aku harus memanggilmu apa?”

“Panggil aku Ibu Pertiwi.”



***

Kata saya:

Tak apa jadi Peri Bumi, tapi jangan sampai PerihHati

Gambar dari Pixabay dan diedit sendiri

You Might Also Like

1 komentar

  1. Lah kok pas liat gambar terakhir aku jadi inget film moanna ya hahaha.. Peri bumi sama perih hati apa hubungannya coba ��. Peri tak harus bersayap, karena kebaikan datang dari hati dilihat dr perbuatan, bukan dr sayap #malah ngelantur ��

    BalasHapus

Call me Pu |@perempuanunik | unikperempuan@gmail.com

IBX58B3FC10AF930