Cerita Idul Adha Kemarin

07.00

Besok niat puasa apa? Tarwiyah atau Arafah?

Masih teringat pertanyaan salah satu saudara ketika kami selesai jamaah Magrib. Saya jawab saja, niat puasa ganti untuk Ramadan. Lha memang masih ada utang sih, hehehe.

cerita idul adha

Tahun 2022 ini perayaan Idul Adha jatuh pada hari yang berbeda. Di Arab tanggal 9 Juli sementara di Indonesia, Pemerintah menetapkan 10 Dzulhijjah pada tanggal 10 Juli. Lalu siapa yang benar? Semua benar karena sudah ada hitungan dan ketetapannya sendiri. Perbedaan itu hal yang biasa. Kita harus menghargai.

Berbeda dengan Idulfitri, Idul Adha itu lebaran yang santai. Enggak beli camilan untuk tamu, tak ada baju baru, tidak ada uang THR, dan lain sebagainya. Saya malah lupa beli stok tahu tempe dan makan seadanya sambil menguras kulkas.

Pagi hari menuju solat ied, Keponakan sudah menunggu lebih dulu. Saya tidak mau merusak harinya dengan bilang tumben. Jadi kami berangkat ke masjid jauh lebih pagi daripada waktu biasa. Dia sudah sarapan sementara saya belum. Saya bilang bahwa sunah di Hari Raya Kurban itu, makan setelah pulang dari solat.

Karena berangkat awal, kami bisa dapat tempat di lantai satu. Beberapa tahun yang lalu saat solat ied, kami selalu berada di lantai 2. Oh iya, dulu waktu masih ada Mbah, kebiasaan saya adalah nyariin tempat di bawah karena tidak memungkinkan beliau untuk naik tangga ke atas.

Rangkaian acara Solat Idul Adha di kampung saya sama seperti soal Idul Fitri. Mulai dari berkumpul, tahlilan, solat, khutbah, lalu mushafahah atau bersalam-salaman. Well kali ini saya mau sedikit bercerita tentang Khutbah Idul Adha Kemarin.

Khutbah Idul Adha Kemarin


Berbeda dengan Solat Jumat, Khutbah Idul Adha itu hukumnya sunah dan dilaksanakan setelah solat. Biasanya saya hanya mendengarkan dan berlalu, tapi kemarin khutbah pendek ini membuat saya setuju.

Seperti yang kita tahu bahwa Idul Adha itu meneladani kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya yang bernama Ismail sebagai wujud kepatuhan pada Sang Pencipta. Meski berat, hal itu dilakukan dengan ikhlas hingga akhirnya saat akan disembelih, Allah memerintahkan Malaikat mengganti Ismail dengan domba.


Yang saya garis bawahi ini, bahwa keluarga Nabi Ibrahim ini legowo, menerima apa pun yang terjadi dengan hati yang lapang. Nabi Ibrahim mau melaksanakan perintah, Ismail menyetujui, dan Siti Hajar menerima semuanya. Bayangkan jika sebagai Ibu beliau menolak? Tak akan ada kisah ini.

Kuncinya memang harus kompak. Ada masa di mana Kepala Keluarga punya keinginan pada Anak, tapi Ibunya tidak setuju. Pun sebaliknya. Yang menjadi batu sandungan memang bukan orang lain, tapi seringnya adalah keluarga sendiri. Mari bersama jika itu memang dalam hal kebaikan. Ini bukan berarti setiap orang harus punya pikiran dan pilihan yang sama ya. Diskusi dan hargai perbedaan.

Idul Adha pun berlalu. Meski menjalani dengan waktu yang berbeda, saya yakin pasti ada hikmah di baliknya. Doa saya, semoga tahun depan atau suatu hari, saya bisa berkurban juga. Amin...

Nah sekarang, bagaimana Cerita Idul Adha Kalian Kemarin?

You Might Also Like

17 komentar