Upacara 17 Agustus Saat SMA

07.00

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Selamat Ulang Tahun, Indonesia! Sudahkah kalian memerdekakan diri sendiri?!

Hari ini hari kemerdekaan Indonesia. Tak banyak kegiatan karena saya freelance yang kerjaannya di rumah saja. Tak ada juga acara lomba 17-an. Cuma semalam ada tahlilan se-RT dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ada.

Freepik
Kemarin saya melihat berita. Di bagian tempat tunggu masuk gunung, ramai orang-orang yang ingin merayakan kemerdekaan di puncak gunung. Buat apa coba?

Bukannya saya sirik. Tapi musim pandemi gini lho! Lalu, kalau di puncak dan mengibarkan bendera atau upacara, setelahnya apa? Kenyataannya, saat sekolah juga kita agak malas mengikuti upacara bendera.

Saya mau cerita soal Upacara 17 Agustus Saat SMA yang sedikit absurd. Ketika masuk kelas SMA, semua anak kelas X dibebastugaskan dari mengikuti upacara bendera hari kemerdekaan. Upacara itu diadakan di Lapangan Kecamatan. Jadi pesertanya dari berbagai sekolah.

Alasan kami tidak jadi peserta adalah karena beberapa hari sebelumnya anak kelas X mengikuti kemah pengenalan. Biasanya dari tanggal 13-15 Agustus. Intinya di Hari Pramuka, kami akan dilantik. Naik tingkat gitu. Waktu itu tanggal 16 kami masuk meski pulang pagi. Dan 17 Agustus, kami diijinkan untuk istirahat.

Ketika kelas XI, saya baru tahu bahwa peserta untuk mengikuti upacara itu dibagi. Ada yang ikut saat upacara Hari Pramuka, ada yang ikut Upacara Hari Kemerdekaan. Nah waktu itu kelas saya kebagian mengikuti Upacara Pramuka.

Karena ada kemah sementara saya juga tugas di salah satu ekstrakurikuler, saya minta minta izin untuk tidak mengikuti upacara. Ketua kelas tahu itu, tapi karena dorongan teman lain dan menganggap hal itu tidak adil, akhirnya saya ditulis bolos. Padahal niatnya memang malas, hahaha.

Setelah hari berlalu, Guru BP datang ke kelas dan bilang bahwa anak-anak yang absen saat upacara diminta keluar. Kami diminta berdiri di lapangan, hormat pada bendera sebagai hukuman. Karena sebenarnya saya anak yang baik, ya saya pun terima hukuman itu. Sepertinya teman sekelas puas sekali saya mendapatkan hukuman itu.

Masuk kelas XII Masa Terakhir SMA, kelas saya mendapatkan jatah mengikuti Upacara Penurunan Bendera di sore hari. Itu jadi satu-satunya upacara tanggal 17 Agustus yang saya ikuti saat SMA. Apakah semua berjalan dengan lancar? Oh, ada drama ternyata, hahaha.

Saya sudah janjian dengan Teman untuk berangkat bersama-sama. Saya yang nebeng motornya sih. Sampai di lapangan, kami masih menunggu sebelum acara dimulai. Upacaranya sih tidak terlalu lama. Bagusnya juga lebih adem karena sore hari.

Di pertengahan, tiba-tiba saya sakit perut. Asli sakit sampai rasanya saya mau pingsan. Akhirnya saya mundur ke belakang. Muka saya betulan pucat. Padahal di upacara-upacara lain yang saya ikuti dan panas-panas, tidak pernah kejadian seperti itu.

Dan setelah dari kamar mandi, semua normal. Duh, upacara pertama dan satu-satunya di SMA kok gini amat ya! Saya pun menunggu Teman yang masih mengikuti upacara. Ternyata sih saya bukan satu-satunya orang yang mundur. Ada Teman lain yang entah alasannya apa hingga keluar barisan upacara.

Ya begitulah cerita Upacara 17 Agustus Saat SMA. Enggak ada yang spesial, lebih ke aneh mungkin. Tak ada cerita prestasi, mengikuti paskibra atau petugas upacara. Jadi peserta saja sudah banyak dramanya. Bagaimana dengan kalian? Punya cerita seru? Atau suka malas-malasan seperti saya?


Harapan saya di Hari Kemerdekaan ini, makna merdeka bukan hanya soal upacara. Kita harus mengingat perjuangan para Pahlawan. Jangan lupa untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna untuk bangsa dan negara kita, Indonesia. Merdeka!

You Might Also Like

0 komentar

You can call me Pu |@perempuanunik | unikperempuan@gmail.com