Pacaran Dengan Yang Lebih Muda, Yes Or No?

07.00

Eh, si A pacaran sama Adik Kelas lho! Pacaran beda usia apalagi Brondong? Oh no!

Ya, begitulah ketika kabar tentang seorang Teman yang saya kenal berembus. Adik kelas yang dipacarinya memang ganteng, bahkan saya pernah melihatnya jadi model lokal di kota kami. Harusnya memang sedikit menyenangkan karena pasti dia jadi dambaan banyak perempuan. Namun tetap saja saya merasa agak underestimate.

pacaran dengan yang lebih muda

Saya tidak tahu apakah ini hanya kebetulan atau ada hal lain. Ibunya Teman saya ini, juga menikahi suaminya yang lebih muda. Apakah semacam sifat turunan? Entahlah. Pokoknya ketika ada Teman perempuan yang pacaran dengan laki-laki yang lebih mudah, saya masih belum bisa menerima dengan akal sehat.

Apa saya iri karena mereka berpacaran?

Tidak juga. Bagi saya, pacaran itu harus dengan yang lebih tua. Paling tidak, 2-3 tahun di atas kita. Tujuannya sih biar lebih ngemong gitu. Dan laki-laki yang lebih muda, kadang kan masih kekanak-kanakan. Ya kan maunya saya diayomi. Itu adalah prinsip saya dulu ketika usia masih belasan tahun.

Kini waktu telah berlalu, jauh sekali. Mungkin prinsip saya tentang percintaan mengalami banyak perubahan. Meski saya belum pernah berpacaran dengan laki-laki yang lebih muda, tapi saya sudah tidak sekolot dulu. Melihat Teman perempuan yang mempunyai hubungan dengan brondong, ya tak masalah. Itu pilihan hidup mereka.

Saya melihat mereka tetap bisa menjalin komunikasi dengan baik, kompak. Dan yang terpenting adalah saling menerima. Kalau dipikir-pikir, usia hanya angka. Kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dari umur. Saya sendiri yang berada di akhir 20-an juga terkadang masih menunjukkan sifat kekanak-kanakan. Ya karena itu hal alamiah yang bisa saja terjadi.

Jadi saya setuju jika ada yang Pacaran Dengan Yang Lebih Muda?

Ya terserah Kalian. Itu pilihan dan prinsip Kalian dalam menjalin hubungan. Mau dengan yang lebih muda atau usia lebih tua sekali kaya Sugar Daddy, ya kembali ke hati masing-masing orang.

Yang pasti, saya pribadi sudah mempersiapkan diri dengan beberapa kemungkinan jika menjalin hubungan atau bahkan menikah dengan yang beda usia. Saya harus menerima apa adanya dia. Kita juga harus bersiap jika ada penolakan dari keluarga sendiri atau keluarga pasangan. Segala kemungkinan itu bisa saja terjadi.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan jika kemungkinan terburuk karena terhalang restu Orangtua kita?

Mungkin hal pertama yang saya lakukan adalah membuktikan bahwa hubungan yang kita jalani ini baik-baik saja. Ya maksudnya meski pacaran beda usia, itu bukan sebuah halangan. Karena kenyamanan memang bisa datang dari mana saja.

Jika memang mau menjalin hubungan lebih katakanlah pernikahan, keduanya juga harus siap baik baik fisik, mental juga finansial. Orang mungkin akan berpikir buruk jika melihat laki-laki yang lebih muda belum bekerja sementara wanitanya yang membiayainya. Jadi terkesan morotin.

Meski nanti dalam pernikahan ada semacam dunia terbalik di mana istri yang bekerja sementara laki-laki yang mengurus rumah, ya itu kembali pada kesepakatan berdua. Menurut saya, dua orang harus tetap punya pekerjaan untuk kehidupan. Entah untuk menambah keuangan atau untuk mengembangkan diri.

Jika sudah membuktikan kelayakan kita tapi restu masih belum ada, mungkin saatnya pasrah. Barang kali memang belum jodohnya. Nanti kalau dipaksa, malah menyakiti banyak orang. Kan maunya punya hubungan yang sehat, bukan hanya senang-senang sesaat.

Ini semua hanya pendapat saya yang belum berpengalaman juga. Bukan untuk menggurui atau sok tahu. Yang jelas, pacaran beda usia atau menikah adalah langkah baru. Saat melangkah pasti ada risikonya juga. Tinggal kitanya, mau diam di tempat nyaman atau melangkah menuju hal baru meski jalannya terjal. Pilihan ada di tanganmu!

You Might Also Like

0 komentar