Wawancara Kerja

07.00

Selama hidup ini, berapa kali kamu menjalani wawancara kerja?

Beberapa waktu lalu, saya membaca twit tentang seseorang yang mengikuti beberapa kali wawancara kerja. Dia masih bekerja di sebuah perusahaan, tapi ingin mencoba peruntungan, mungkin suasana lain. Kok enggak bersyukur banget ya? Bukannya masa pandemi kaya gini banyak yang kena PHK? Ini sudah ada pekerjaan kok tidak dinikmati saja.

Pasti berpikir seperti itu ya? Kita kan tidak benar-benar tahu keadaan seseorang hanya karena sekali ngetwit. Bisa saja karena kontraknya mau habis dan tidak diperpanjang sehingga segera mencari pekerjaan baru. Eh itu sih salah satu cerita saya dulu, hehehe.

wawancara kerja

Sekitar 2-3 bulan sebelum masa kontrak saya berakhir karena memang tidak berniat untuk memperpanjang, saya mengirimkan lamaran pekerjaan ke berbagai tempat. Saat itu, saya melakukannya secara daring di bursa kerja. Pertama untuk menghemat waktu karena saya masih bekerja. Kedua, saya ingin ke kota lain, keluar dari desa untuk mendapatkan pengalaman baru.

Pucuk dicinta ulam tiba. Panggilan untuk wawancara kerja itu pun datang. Tak tanggung-tanggung. Ada 2 panggilan di 2 kota yang berbeda yaitu Kudus dan Semarang. Saya pun bersorak dan menyiapkan hari untuk mengambil libur demi interview ini.

Di hari yang sudah ditentukan, saya berangkat pagi-pagi dari rumah dengan kendaraan umum. Rencananya saya pergi ke Semarang dulu baru ke Kudus. Ibu hanya tahu saya ada urusan, bukan wawancara kerja. Saya pikir nanti saja memberitahukan hal itu jika sudah diterima.

Saya sampai di Terminal Terboyo, Genuk, Semarang sekitar pukul 9.30. Ini jauh dari waktu biasa, tapi tidak telat juga. Tidak salah nih terminalnya? Oh tentu saja tidak. Kan ini cerita lama. Jadi ya saya masih turun di situ.

FYI, sejak 1 September 2018, Terminal Terboyo Semarang resmi ditutup. Untuk bus AKAP dan AKDP dialihkan ke Terminal Penggaron, termasuk bus dari dan ke Jepara. Jadi time line cerita wawancara kerja saya ini ada jauh di bawah tahun 2018.

Kembali ke cerita ya. Setelah di terminal, saya ingat Teman bilang bahwa saat wawancara pakai baju biru itu bisa bikin hati adem. Ya walaupun putih sebenarnya lebih netral. Yang pasti harus formal dan rapi. Saya pun ganti baju karena saat naik bus kena bau keringat.

Saya tidak tahu daerah Semarang meski beberapa kali ke sana. Waktu itu belum musim ojek online, Trans Semarang belum juga sehingga saya naik angkutan umum untuk ke Pedurungan Kidul, lokasi di mana saya wawancara kerja. Gilanya waktu saya tanya Pewawancara tentang bagaimana ke kantor tersebut, disarankan naik taksi. Ya kali. Kita nyari kerja eh disaranin naik kendaraan yang akan memakan biaya mahal.

Sampai lokasi, saya masih bertanya penduduk sekitar hingga akhirnya sampai di kantor. Waktu itu bukan hanya saya. Ada satu lagi Pelamar yang Saya perkiraan seusia dengan saya. Wawancara kerja kali ini saya pikir akan diberikan beberapa pertanyaan, seperti:
  • Apa yang diketahui tentang Perusahaan
  • Mengapa tertarik bergabung ke Perusahaan
  • Gambaran tentang pekerjaan yang dilamar
  • Mengapa berhenti dari tempat kerja lama
  • Gaji yang dinginkan, dan lain sebagainya

Namun ternyata tidak juga. Saya lupa bagaimana detailnya, tapi Pewawancara memberitahu jika perusahaannya ada di beberapa kota. Saya ditanya mau ditempatkan di daerah mana. Ada satu kota yang waktu itu benar-benar saya inginkan dan saya mengatakan hal tersebut. Pewawancara bilang, saya bisa di tempatkan di situ asal bayar sekian ratus ribu.

interview

Saya menimbang dan mengatakan akan mengambil uang di ATM karena tidak membawa tunai. Pewawancara menunjukkan ATM terdekat dari lokasi dan saya pun keluar. Saya benar-benar berdiri di depan anjungan tunai mandiri. Entah keberuntungan atau apa, kartu yang saya miliki dari bank yang berbeda sehingga saya mengurungkan niat.

Saya ingin balik badan dan mengatakan itu pada Pewawancara sehingga bisa diberi waktu lagi. Namun saya berhenti, menyetop bus dan kembali ke terminal Terboyo. Hati saya bertanya, apa ini benar? Bagaimana jika saya mengambil uang? Risiko setelah itu, saya tidak akan punya tabungan sama sekali.

Dengan hati yang masih galau, saya menghubungi seorang Teman yang lumayan berpengalaman dalam pekerjaan di berbagai tempat. Dia bilang bahwa tidak benar jika Pewawancara meminta uang untuk memasukkan Pelamar ke perusahaan. Bisa saja itu penipuan.

Saya langsung mencari informasi terkait perusahaan tersebut. Ada, tapi tidak banyak dan gambarannya tak seperti yang saya kunjungi. Mungkin saya terlalu menginginkan pekerjaan lain sehingga apa pun itu, saya kirimkan lamaran.

Ada rasa sedih, tapi sedikit lega karena saya tidak mengambil uang demi diterima bekerja. Dan karena perasaan yang cukup buruk, saya mengurungkan niat untuk ke Kudus meski saat itu perhitungan jam cukup. Saya hanya pulang dengan diri sendiri, tidak dengan pekerjaan apa pun.

Esoknya saya kembali bekerja seperti tidak terjadi apa-apa. Saya hanya perlu menyelesaikan kontrak dan pergi. Sampai semua berakhir, saya masih belum melamar pekerjaan di mana pun. Iya, saya jadi pengangguran sampai beberapa waktu, cukup lama. Butuh waktu panjang untuk mendapatkan pekerjaan baru. Lebih tepatnya untuk mengembalikan kepercayaan diri dan melupakan masa lalu.

Saya belajar banyak hal tentang gagalnya wawancara kerja tersebut. Satu yang pasti, jangan bayarkan uang untuk diterima di suatu pekerjaan. Banyak kasus seperti ini dan akhirnya kita sendiri yang rugi.

Carilah kerja yang wajar, baik dari segi gaji ataupun jam kerja. Jika dirasa tidak benar, maka minta saran pada yang berpengalaman. Jadi minimal kita punya pertimbangan lain sehingga tidak terjebak.

Mungkin seperti itu saja. Bagaimana dengan Kalian? Ada yang punya pengalaman serupa atau punya tip untuk diterima saat wawancara kerja? Semangat juga untuk para Pencari Kerja. Semoga lancar ya!

You Might Also Like

23 comments